Catholic Encouragement: a response to Bingolly

Twenty Sixth Sunday in Ordinary Time

Thursday, September 24, 2009

bReading 1/bbr /a href=http://www.catholic.org/bible/daily_reading/?select_date=2009-09-24Hg 1:1-8/abr /br /bGospel/bbr /a href=http://www.catholic.org/bible/daily_reading/?select_date=2009-09-24Lk 9:7-9/a

Excerpt from:
Thursday, September 24, 2009

PENGANTAR KITAB EZRA

Menurut catatan Sejarah Kitab-kitab Samuel dan Raja-Raja merupakan untaian sejarah Israel selama lima abad dari Daud sampai pembuangan Babylonia, tanpa terputus.

Kemudian datanglah 70 tahun masa “penahanan” atau pembuangan. Tidak semua orang dibuang. Kebanyakan dari orang-orang itu adalah petani kecil yang tetap tinggal di tanahnya. Tetapi mereka tidak mempunyai pemimpin-pemimpin, baik politis maupun religius, dan karena itu mereka tidak berbuat sesuatu untuk menegakkan kembali Negara mereka.

Dalam tahun 538 SM, satu keputusan dari Koresy, penakluk orang-orang Kasdim, memerintahkan semua orang Yahudi yang dibuang ke Babel untuk kembali ke tanah airnya. Tindakan Koresy ini merupakan suatu isyarat politis, tetapi Kitab Suci melihat di dalamnya pemenuhan janji Allah kepada nabi-nabi (khususnya Yeremia dan Yehezkiel). Keputusan Koresy menandai mulainya pengembalian orang-orang tawanan: mereka harus membangun kembali bangsanya. Yang pertama kembali bersama Zerubbabel, seorang keturunan raja. Sesudah melewati awal yang sulit, mereka mengorganisir diri mereka di bawah arahan Ezra dan Nehemia dalam abad berikutnya.

Reformasi Ezra
Keputusan Koresy tidak merubah situasi poLitik Palestina yang sudah menjadi satu propinsi dari kekaisaran. Yerusalem tetap dibawah kekuasaan Samaria dalam hal pemerintahan dan  Samaria yang aristokrat tidak mau kalau kaum bangsawan dari Yehuda, yang baru kembali ke tanah airnya setelah 50 tahun pembuangan, melebihi mereka.

Tidak semua orang Yahudi kembali ke negerinya. Banyak diantara mereka telah mengungsi ke luar negeri sebelum masa pembuangan dan mereka menetap di negara-negara di mana mereka tinggal: Mesir, Assiria, Persia. Banyak yang lain, yang telah dibuang, tidak juga kembali dari Babel, karena mereka telah berhasil mengatasi keadaan hidup yang menyedihkan dengan saling tolong-menolong, dan sekarang memegang posisi penting di sana. Tetapi mereka yang kembali biasanya dalam kelompok-kelompok keluarga atau kelompok-kelompok yang sudah terorganisir; mereka adalah orang Yahudi yang telah memahami nubuat Nabi, yang mendorong mereka untuk mendirikan kembali suatu negara Israel yang murni dan suci.

Bagi mereka yang menjadi ancaman pertama adalah kehilangan seinangat karena mereka tinggal di antara orang-orang asing dan orang-orang Yahudi yang tidak terlalu tertarik dengan misi mereka. Karena itulah pekerjaan Ezra dan Nehemia menjadi sangat penting dalam menciptakan rasa persatuan diantara orang Yahudi dan terpisah dari bangsa lain. Secara khusus lihat masalah perkawinan campur (Ezr 9-10, Neh 9:2 dan 13:10-30).

Kemudian dalam karya biblisnya, Ezra memegang peranan yang menentukan dengan mengumpulkan buku-buku dan menyatukan semuanya (buku-buku tersebut) untuk pertama kalinya, dan lalu menjadikan Buku Suci itu dasar dari agama mereka. Sampai saat itu, buku-buku Kitab Suci yang ada hanya di tangan para imam, dan sudah cukup bagi masyarakat untuk menghadiri upacara-upacara kenisah tradisional. Adalah Ezra yang memulai suatu bentuk baru dari  acara pemujaan di mana pembacaan Kitab Suci bersama menjadi dasar kehidupan keagamaan mereka, dengan demikian membawa mereka pada suatu iman yang lebih kokoh dan bertanggung jawab.  Lihat Nehemiah 8. Peranan Ezra dalam pembuatan Kitab Suci dikenang dalam 2 Makabe 2:13-14.

Pembaharuan Ezra menjadikan komunitas Yahudi pasca-pembuangan Babel sesuatu yang Bangsa pilihan Allah menjadi suatu bangsa yang kudus, yaitu bangsa yang disucikan bagi Allah dan dipisahkan dari bangsa-bangsa lain dengan batasan-batasan hukum mereka. Tujuan hidup mereka adalah untuk memelihara pemujaan pada Allah Yang Esa, dan karena mereka tidak mempunyai kemerdekaan nasional, para imam menjalankan kuasa sipil maupun keagamaan, dalam nama Allah.

Buku Ezra dan Nehemiah
Pada mulanya kedua buku ini disatukan dalam satu buku. Keduanya memberikan beberapa  catatan tentang pekerjaan yang telah diselesaikan kedua orang di atas. Langkah-langkah menuju Restorasi (pemulihan) komunitas Yahudi dapat dilihat sebagai berikut:

* Mulai dengan dekrit Koresy di tahun 538 SM, beberapa kelompok mereka yang dibuang
kembali ke Yerusalem di mana Zerubbabel membangun kembali KENlSAH (lih. Ezr 1:1-4:5, 4:24-6:2).
* Lalu, musuh-musuh orang Yahudi mencoba mencegahpembangunan kembali KOTA ITU (Yerusalem) (lih, Ezra 4:7-23).
* Pada tahun 458, Ezra datang untuk mengorganisir kornunitas Yahudi tersebut, dengan memberlakukan hukum Musa (Iih Ezra 7 s/d 10).
*  Pada tahun 445 Nehemia datang dari Persia dan ia membangun kembali TEMBOK-TEMBOK.Lalu iamernerintah Yerusalem selama 12 tahun (lih. Neh l s/d 7).
*
Akhirnya, misi kedua Nehemia pada 425 (lih. Neh 13).

Sumber : Kitab Suci Komunitas Kristiani (Edisi Pastoral Katolik)

PENGANTAR KITAB 2 TAWARIKH

Bagi mereka yang ingin mengenal sejarah Israel, Kitab Tawarikh (Chronicles) tidak mengajarkan hal-hal baru; apa yang ditulis di sini sudah diceritakan dalam Kitab Samuel dan Raja-Raja. Perbedaannya terletak pada seleksi peristiwa dan cara penyampaiannya.

Penulis Kitab Tawarikh (Chronicles) ingin menunjukkan bahwa masa depan bangsa Yahudi tergantung pada kesetiaan mereka pada hukum Musa dan pada ketentuan pemujaan.

Pada masanya, bangsa Yahudi tidak lagi menjadi satu negara berdaulat, tetapi setidak-tidaknya menjadi satu propinsi yang berdaulat dari kekaisaran Persia. Tumbuh di antara mereka keiginan untuk menjadikannya suatu negara “teokrasi”, yaitu suatu Kerajaan Allah, yang diperintah dalam nama-Nya oleh para imam. Mereka mencoba melupakan para penguasa Persia yang membiarkan mereka agak bebas dan mereka mengorganisasikan kehidupan nasional di kenisah dan hukuni Musa. Mereka menantikan kedatangan “Putra Daud”. Dan mereka bisanya mengatakan, “Bila hukum ditaati sepenuhnya di seluruh negara untuk sehari penuh, Messias akan datang”.

Inilah alasannya sehingga penulis hampir secara khusus tertarik pada sejarah raja-raja Yehuda keturunan Daud. Sementara penulis memberikan kita sebuah daftar nenek moyang Daud sampai pada Adam, ia tidak mengatakan satu kata pun tentang kerajaan Israel di mana kebanyakan orang pilihan hidup, karena kerajaan Israel telah berpisah dari kerajaan Daud. Penulis memberikan kepada kita rincian yang menarik yang tidak ditemukan dalam Kitab Samuel dan Raja-Raja, tetapi secara umum, kisah ini tampaknya tidak nyata dan membosankan kita. Lebih jauh, terbawa oleh imannya yang penuh gairah, ia sangat menyenangi jumlah yang sangat besar dan kadang-kadang ia mengubah kenyataan untuk memperkuat argumennya (bdk. 1Raj 22:30 dan 2Taw 20:35; 2Sam 12:31 dan 1Taw 20:3) .

Bagaimana kita dapat mengambil manfaat dengan membaca kitab ini? Pada setiap halaman kita akan menemukan keyakinan orang yang percaya tidak mempunyai ambisi yang lain kecuali memenuhi kehendak Allah; kemenangan-kemenangan lainnya akan datang sebagai hadiah. Lebih dari itu, kitab ini merupakan sebuah peringatan bahwa orang-orangnya yang percaya kepada Kristus (Christ’s people) walaupun sekarang mereka tidak menipunyai batas-batas jelas yang kelihatan dan tidak hidup terisolir atau menjauhi orang. banyak, tidak harus kehilangan keunikan mereka dalam upaya pembaruan dengan orang banyak. Orang-orang percaya tak akan menyerupai mereka yang tidak percaya, tidak juga mereka berpikir dengan cara yang sama. Mereka mempunyai misi sendiri dan mereka peduli akan persatuan yang kelihatan dari Gereja, di sekeliling orang yang ditempatkan Allah di tengah-tengah mereka sebagai wakil-Nya

Sumber : Kitab Suci Komunitas Kristiani (Edisi Pastoral Katolik)

PENGANTAR KITAB 1 TAWARIKH

Bagi mereka yang ingin mengenal sejarah Israel, Kitab Tawarikh (Chronicles) tidak mengajarkan hal-hal baru; apa yang ditulis di sini sudah diceritakan dalam Kitab Samuel dan Raja-Raja. Perbedaannya terletak pada seleksi peristiwa dan cara penyampaiannya.

Penulis Kitab Tawarikh (Chronicles) ingin menunjukkan bahwa masa depan bangsa Yahudi tergantung pada kesetiaan mereka pada hukum Musa dan pada ketentuan pemujaan.

Pada masanya, bangsa Yahudi tidak lagi menjadi satu negara berdaulat, tetapi setidak-tidaknya menjadi satu propinsi yang berdaulat dari kekaisaran Persia. Tumbuh di antara mereka keiginan untuk menjadikannya suatu negara “teokrasi”, yaitu suatu Kerajaan Allah, yang diperintah dalam nama-Nya oleh para imam. Mereka mencoba melupakan para penguasa Persia yang membiarkan mereka agak bebas dan mereka mengorganisasikan kehidupan nasional di kenisah dan hukuni Musa. Mereka menantikan kedatangan “Putra Daud”. Dan mereka bisanya mengatakan, “Bila hukum ditaati sepenuhnya di seluruh negara untuk sehari penuh, Messias akan datang”.

Inilah alasannya sehingga penulis hampir secara khusus tertarik pada sejarah raja-raja Yehuda keturunan Daud. Sementara penulis memberikan kita sebuah daftar nenek moyang Daud sampai pada Adam, ia tidak mengatakan satu kata pun tentang kerajaan Israel di mana kebanyakan orang pilihan hidup, karena kerajaan Israel telah berpisah dari kerajaan Daud. Penulis memberikan kepada kita rincian yang menarik yang tidak ditemukan dalam Kitab Samuel dan Raja-Raja, tetapi secara umum, kisah ini tampaknya tidak nyata dan membosankan kita. Lebih jauh, terbawa oleh imannya yang penuh gairah, ia sangat menyenangi jumlah yang sangat besar dan kadang-kadang ia mengubah kenyataan untuk memperkuat argumennya (bdk. 1Raj 22:30 dan 2Taw 20:35; 2Sam 12:31 dan 1Taw 20:3) .

Bagaimana kita dapat mengambil manfaat dengan membaca kitab ini? Pada setiap halaman kita akan menemukan keyakinan orang yang percaya tidak mempunyai ambisi yang lain kecuali memenuhi kehendak Allah; kemenangan-kemenangan lainnya akan datang sebagai hadiah. Lebih dari itu, kitab ini merupakan sebuah peringatan bahwa orang-orangnya yang percaya kepada Kristus (Christ’s people) walaupun sekarang mereka tidak menipunyai batas-batas jelas yang kelihatan dan tidak hidup terisolir atau menjauhi orang. banyak, tidak harus kehilangan keunikan mereka dalam upaya pembaruan dengan orang banyak. Orang-orang percaya tak akan menyerupai mereka yang tidak percaya, tidak juga mereka berpikir dengan cara yang sama. Mereka mempunyai misi sendiri dan mereka peduli akan persatuan yang kelihatan dari Gereja, di sekeliling orang yang ditempatkan Allah di tengah-tengah mereka sebagai wakil-Nya

Sumber : Kitab Suci Komunitas Kristiani (Edisi Pastoral Katolik)

PENGANTAR KITAB 2 RAJA-RAJA

Buku Raja-Raja yang kedua ini masih membicarakan kemerosotan hebat yang dialami oleh kerajaan di sebelah utara dan selatan: Israel dan Yehuda.

Bagaimanapun adalah salah kalau kita menyangka bahwa pada mulanya bangsa itu makmur karena mempunyai raja-raja yang baik dan jujur, Daud dan Salomo, dan setelah mereka, raja-raja yang jahat menghancurkan segala-galanya; atau bahkan bangsa Yahudi yang dihancurkan oleh orang-orang Kasdim lebih berdosa daripada orang-orang di zaman Daud.

Bila kita membaca dengan lebih teliti, kita sadar bahwa penulis buku ini tidak menilai para pendiri kerajaan dan para penggantinya dengan bobot yang sama. Apakah Yerobeam II, yang mengembalikan kemakmuran dan kedaulatan bangsa Israel dan membawa kedamaian selama 40 tahun, lebih rendah dari Salomo? Apakah ia barangkali seorang yang kurang percaya? Buku pertama Raja-Raja begitu bersemangat menceritakan kemenangan dan kehebatan Salomo, yang lebih bercorak kebendaan, sedangkan buku kedua Raja-raja membicarakan Yerobeam II hanya dalam satu bab saja, seakan-akan kenyataan didirikannya Kenisah lain selain Kenisah di Yerusalem menjadi suatu kutukan yang menghapus atas segala kesuksesannya.

Dalam hal ini kita harus melihat cara Allah mengajar kita; pertama ia mendorong bangsa-Nya untuk mencapai kemerdekaan dan kemakmuran, sebab mereka hidup dalam tatanan waktu sejarah ketika penaklukan harus diselesaikan. Allah tidak menunjukkan semua segi negatif dari yang mereka lakukan; Ia tidak menunjuk kesalahan-kesalahan Salomo atau kesia-siaan dari kemewahannya, Tetapi kemudian Allah mengajak bangsanya untuk melihat dengan mata yang jeli, dan ketika cita-cita besar dari kerajaan Salomo mulai mundur, Allah mengajarkan mereka untuk mencari bentuk penaklukan lain yang lebih bertahan dan lebih penting, yaitu Kerajaan Keadilan.

Sumber : Kitab Suci Komunitas Kristiani (Edisi Pastoral Katolik)

PENGANTAR KITAB 1 RAJA-RAJA

Raja-Raja merupakan babak ketiga dari sejarah Israel. Babak ini mengikuti zaman para Bangsa (Abraham di tahun  1750 S.M) dan Keluaran dan penaklukan (Musa di tahun 1250 S.M).

Daud menduduki Yerusalem sekitar tahun 1000 S.M. SeteJah wafatnya Salomo di tahun 932 kerajaan Daud dan putranya Salomo terpecah. Bagian Utarayang disebut Kerajaan Israel akan lenyap sebagai bangsa dua abad kemudian. Bagian Selatan yang disebut Kerajaan Yehuda bertahan hingga tahun 587 S.M, tahun penghancuran Yerusalem serta Kenisah dan pembuangan ke Babel.

Masa ini mencakup seluruhnya empat abad. Keempat abad masa raja-raja adalah masa yang penting dalam sejarah suci karena pada masa inilah Allah mengangkat para nabi dari antarapilihan-Nya.

Sebagian besar dari Kitab Suci ditulis pada masa empat abad ini. Bukan hanya para nabi besar yang menghasilkan tulisan-tulisan ini, seperti Yesaya dan Yeremia, tetapi juga kelompok nabi yang kurang peranannya dalam menulis sejarah Israel; sebagian besar dari bagian-bagian kitab Kejadian dan Keluaran, kitab Ulangan, Yosua, Hakim-Hakim, Samuel, dan Raja-Raja.

Dapat dikatakan bahwa masa Raja-Raja adalah masa yang terpenting dalam sejarah suci; masa ini jugalah yang dapat kita ketahui dengan sangat pasti.

Keempat abad ini juga tampak menjadi masa kemerosotan kerajaan Israel bila kita hanya memperhatikan kekayaan dan kekuasaannya, Tetapi selama empat abad ini, melalaui pencobaan-pencobaan, penganiayaan-penganiayaan dan berbagai bentuk kesulitan, iman Israel menjadi matang sampai akhir, dalam diri para nabi besar, suatu keagungan dan kejelasan yang hanya dilampaui oleh Kristus.        .

Kitab Raja-Raja
Pada mulanya Kitab Raja-Raja yang asli membentuk satu kitab saja. Karya ini hasil renungan nabi dan disempumakan selama masa pengasingan di Babel.

Kitab ini merupakan suatu sejarah keagamaan. Kejadian-kejadian yang bagi sejarahwan dianggap penting dengan sengaja dihilangkan. Kitab ini hampir tidak membicarakan masa pemerintahan yang penting dari Omri dan Yerobeam II di Samaria. Penilaiannya terhadap Raja-Raja Israel (kerajaan Samaria) selalu negatif, mempersalahkan mereka atas perpecahan kerajaan Daud kuno. Hanya beberapa raja Yehuda yang dipuji karena kesetiaannya pada Tuhan.

Sumber : Kitab Suci Komunitas Kristiani (Edisi Pastoral Katolik)

PENGANTAR KITAB 2 SAMUEL

Kitab-kitab Samuel merupakan dua bagian dari satu karya .yang sama. Apa yang telah diuraikan pada kata pengantar Samuel yang pertama berlaku juga untuk kitab kedua ini.

Pada bagian kedua ini, perbuatan-perbuatan Raja Daud diceritakan. Belum pernah ada sejarah dari masa lalu yang ditulis sebegitu jujur dan tulus seperti kitab ini sebuah cerita yang ditulis oleh seorang pilihan Allah yang ,dapat menggali kebesaran Daud yang sesungguhnya. Orang-orang yang besar bukanlah selalu mereka yang perbuatannya berpengaruh selama hidup mereka; bukan juga para orang saleh yang telah menunjukkan kesalehannya yang lebih besar atau membuat lebih ban yak mukjizat. Demikianlah apa yang istimewa dari Raja Daud dapat diketahui dari serangkaian kejadian kecil yang mungkin tampaknya bodoh bagi sahabat-sahabat seangkatannya (lih. betapa berbeda Daud dari Yoab, orang sukses dan efektif). Tetapi hal-hal kecil ini tidak luput dari perhatian dia yang menulis cerita ini. Kemudian, Israel mengerti kalau saja mereka mempunyai beberapa raja yang terkemuka, hanya Daud yang memberikan kepada mereka gambaran dari raja yang sesungguhnya yang dinantikan, yaitu Kristus.

Untuk lebih memahami kejadian-kejadian berikut ini, perlu diingat bahwa bahkan sebelum Daud suku Yehuda yang menghuni bagian selatan Palestina merasa berbeda dengan suku-suku Israel yang berada di bagian utara. Saul mempunyai lebih banyak sekutu di utara, sedangkan  Daud yang adalah orang Betlehem berasal dari suku Yehuda dan mendapat dukungan di sana.

Sumber : Kitab Suci Komunitas Kristiani (Edisi Pastoral Katolik)

PENGANTAR KITAB 1 SAMUEL

Kitab Samuel.iyang sekarang dibagi menjadi dua, menandai tahap ketiga dari sejarah suci sesudah Kitab Kejadian dan Kitab Keluaran. Di sini kita akan menemukan karya Allah dalam hati manusia dan bagaimana manusia bekerja sama dengan pimpinan Allah.

Dalam kitab ini, secara tenang, dipaparkan contoh kcgagalan-kegagalan Daud; kehidupannya, seperti .kehidupan kita masing-masing, tampaknya tidak menyimpan misteri (rahasia). Namun pada akhimya kita temukan bahwa Allah senantiasa hadir dalam segala sesuatu yang terjadi pada dirinya dim bahwa Ia bersama Daud telah mendirikan sesuatu yang tak akan musnah .

Nilai buku ini tidak terletak pada peristiwa-peristiwa sejarah yang besar. Memang ada beberapa peristiwa besar di sini, akan-tetapi Kitab Suci ini lebih mengutamakan sejarah pribadi Daud daripada kemenangan-kemenangannya. Raja kaum Israel yang pertana ini adalah teladan bagi orang beriman, karena, meskipun memiliki kepribadian yang agung dan kecerdasan yang luar biasa, ia membiarkan diri dibimbing dan diilhami oleh Allah, dan yang menjadi perhatiannya yang utama adalah melayani-Nya dalam segala hal.

Dapat dikatakan bahwa di sini Allah menyembunyikan diri-Nya, Tidak ada yang dikatakan ten tang perwahyuan dan pemyataan yang agung dari Allah. Hanya sepatah kata kepada nabi Nathan yang menentukan masa depan: kerajaan Daud, di Yerusalem dan seluruh Palestina, kelak berkembang menjadi kerajaan Allah yang universal. Yesus Kristus akan -menjadi Putra Daud.
Dua tokoh terkemuka mendahului Daud:
- Samuel, hakim terakhir yang juga seorang nabi. Pada masa inilah kaum Israel yang tercerai berai merasa memerlukan penguasa tetapi, Kami menginginkan seorang raja seperti bangsa-bangsa lainnya”, bukannya tergantung hanya pada orang-orang karismatik,” para hakim”, yang tidak selalu ada bilamana rakyat memerlukannya.
- Saul, raja pertama yang dipilih Allah, tetapi kemudian ditolak.’
Pada pembukaan kitab ini, Israel belum sepenuhnya menguasai tanah Kanaan, tetapi suku-sukunya telah terbiasa hidup menetap dan secara berkelompok, setelah menjadi penggembala yang berpindah-pindah. Tinggal di bukit-bukit, mereka sering mendapat serangan dari orang Filistin yang tinggal di, dataran-dataran rendah yang subur sepanjang pantai, di kota-kota Gai, Ashdod, Askelon, Ekron.

Sumber : Kitab Suci Komunitas Kristiani (Edisi Pastoral Katolik)

Next Page »